“Pada
dasarnya gue suka melihat photo atau status teman yang terlihat bahagia
dengan keluarganya. Tapi kadang untuk berkomen atau sekedar memberi
jempol, gue harus menahan diri, karena pengalaman yang sudah-sudah,
komen balik dari teman tidak selalu seperti yang diharapkan.”
Pagi-pagi, bunyi pesan singkat yang panjang dari seorang sahabat membangunkan saya.
Sembari
menahan kantuk –karena baru tertidur jam 1 pagi- saya mengetik
balik.”Hahaha, pasti responnya nanti seputar status lajang kita
kan,’makanya buruan, apa gak pengen liat keluarga bahagia seperti aku’,
‘ayo kapan lagi’, something like that –lah. Hehehe..gue dah kebal, Sist.
Jadikan doa aja komen-komen seperti itu ;-).”
Tidak ada balasan balik. Dan saya pun berniat melanjutkan tidur.
Ini bukan pertama kalinya saya mendapatkan curhat yang nyaris sama dari orang yang berbeda.
Kapok
berkomen di FB, karena respon balik yang terjadi malah membuat diri
merasa tersudut. Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Di dunia nyata
malah. Disudutkan seorang teman lama yang dengan bangganya menceritakan
kedua anaknya (sampai di sini saya maklum, mana ada sih orang tua yang
tidak bangga dengan anaknya. Saya juga senang melihat dia bahagia kok),
kemudian,”bla..bla..bla..”, dan ujung-ujungnya menyerang dengan
kalimat, “...Ngga iri kau melihatku Git, makanya kawin kau, biar dapat
anak lucu dan pintar kayak anakku...” Katanya enteng. Seolah tak sadar
ada yang keliru dengan ucapannya.
Ouch, ngga suka Kakak diserang kayak gitu, Dek.
Emosi karena mengingat kejadian itu membuat kantuk saya hilang.
Ah, kok masih ada ya manusia-manusia yang suka melepaskan omongan tanpa mikir seperti itu. Yang saya ingat respon saat kejadian itu terjadi hanya tersenyum (meski dalam hati mau
merepet juga, hehehe).
Seseorang kadang tidak sadar bahwa ucapannya bisa melukai hati orang lain.
SMS lanjutan masuk ketika saya selesai sarapan pagi.
“Dalam
hal ini, berolok-olok begitu sama artinya dengan mengolok-olok
ketentuan Allah terhadap seseorang. (Nanya) kapan elo married sama
dengan (nanya) kapan elo mati. (Kalimat) makanya cepat-cepat married,
sama dengan (mengatakan) cepat-cepat mati. Hidup, mati dan jodoh, dia
sendiri kan tau itu misteri. Sama misterinya dengan kapan elo lahir
(atau melahirkan). Bisa jawab nggak.”
Masih ada sisa emosi tersirat dalam SMS-nya.
“Iya
sih, mestinya mereka bisa berempati dan sensitif. Kondisi orang kan
berbeda-beda. Ada memang orang yang mungkin perlu didorong untuk
menikah, atau belum sadar positifnya menikah. Tapi kayak-kayak kita ini
kan bukan termasuk yang belum sadar, hehehe.” Saya membaca sekali lagi
ketikan sebelum mengirimnya. Terkirim.
Menarik, analogi yang ditulis sahabat saya tadi.
Married (jodoh)
dan mati adalah sama. Keduanya adalah takdir Allah yang tak seorang pun
tahu kapan terjadi. Bedanya, yang satu (kematian) tidak ada orang yang
mau cepat-cepat (nyusul), sedangkan yang satu (jodoh) semua
mempertanyakan ‘kapan nyusul’ kepada para lajang saat mendapat undangan
dari kenalan yang akan menikah. Seolah semudah memanggil becak
aja buat nyusul, hehehe.
Meskipun namanya takdir, tak bisa dielakkan jika sudah waktunya, keduanya (kematian dan jodoh) tetap butuh ikhtiar.
Orang
cenderung memberi stigma kepada yang belum menikah atau belum punya
anak sebagai orang yang tak berikhtiar. Tidak ingin (menikah), tidak
berusaha (cari jodoh), tidak mau repot (urusan anak) dan sebagainya. Dan
itu membuat mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain, bahwa itu
(yang ‘tidak-tidak’ tadi) adalah hal yang salah, sehingga perlu
diluruskan. Padahal yang belum menikah itu bisa saja sudah berikhtiar,
tapi karena belum ketemu jodoh, atau memilih untuk berpisah karena
hal-hal lain. Ada memang yang belum termotivasi untuk menikah sehingga
perlu didorong, diingatkan bahwa menikah itu (dalam Islam) wajib bagi
yang mampu. Tapi tak sedikit juga yang secara sadar memutuskan untuk
tidak menikah (karena tidak tertarik dengan lawan jenis, atau memang
memilih untuk selibat). Atau malah ada yang sudah menikah tapi memilih
untuk tidak punya anak (
kami kayaknya ndak bakalan punya baby say. Ndak siap bawa bayi ke this crazy world – tulis salah seorang sahabat via inbox).
Semua orang punya alasan, pilihan dan akhirnya memutuskan. Dan mestinya kita harus menghormati keputusan itu.
Sama
halnya dengan kematian. Bayangkan, bagaimana perasaan kita jika orang
yang kita sayangi meninggal karena sakit, dan orang yang melayat
melontarkan tanya,’kenapa sampai meninggal?’ ‘kenapa tidak dibawa
berobat ke luar negri saja kemaren?’, ‘kenapa nggak dioperasi?’ dan
‘kenapa-kenapa’- lainnya, yang
ngga penting karena mayat sudah
terbujur kaku. Terdengar kejam ‘kan? Padahal segala ikhtiar sudah
dilakukan semampu kita. Dan sangat mungkin kita punya alasan untuk
menjawab pertanyaan ‘kenapa’ mereka. Tapi bukan pada tempatnya juga
untuk menjawab semua tanya orang ‘kan? Tidak semua orang perlu tahu jika
kita punya niat untuk berobat ke luar negri, tapi tidak ada biaya.
Tidak semua orang harus tahu jika operasi tidak dilakukan karena kanker
sudah menyebar, misalnya.
Dan mengapa orang tidak bisa menahan diri untuk bertanya hal yang tidak pada tempatnya?
Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika akan mengikuti kursus singkat di Melbourne, Australia, saya diharuskan ikut dalam
pre departure training
selama 3 bulan di Jakarta. Selain memantapkan bahasa Inggris, dalam
training tersebut juga diberikan materi seputar budaya di sana. Salah
satunya adalah tentang hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh ditanyakan
dalam pergaulan. Menanyakan umur, status perkawinan, anak, pandangan
politik/partai, agama dari seseorang, adalah hal-hal yang saya ingat
sebagai sesuatu yang tidak sopan untuk dilontarkan sebagai bahan
basa-basi. Dan saya pikir, hal yang sama mestinya juga berlaku di
Indonesia (dengan tambahan hal ‘berat badan’, hehehe)
“Begitu dalamnya makna tak menghakimi seorang.” Sambung sahabat saya dalam SMS-nya.
Setuju. Terkadang manusia memang –minjam istilah anak muda sekarang-
sotoy (sok tahu) dalam urusan orang lain. Berbagai komentar seperti: “Jadi kapan?” –
doakan aja semoga dalam waktu dekat. “Dah isi belum?”-
tabung kali ah diisi. “Wah, gak tokcer juga neh suamimu”-
pernah belajar Biologi gak sih bahwa pembuahan tidak selalu akan terjadi. ”Makanya, tak usah lah pilih-pilih”-
ow, maaf, buatku memilih itu penting dan dianjurkan agama.” Itulah, jangan sibuk (kerja) kali” –
ah, kau pun sibuk kali nanya-nanya, heheh...Begitulah,
banyak komentar atau pertanyaan klise yang seolah diucapkan dengan
penuh empati, tapi nyatanya tidak sensitif dengan perasaan orang lain.
Tanggapi santai, senyum, sembari menjawab dalam hati dengan kata-kata
seperti yang saya tuliskan dengan huruf miring di atas. Mencoba berbaik
sangka bahwa itu tanda perhatian dan pedulinya. Yang
nanyain
kapan pesta, enaknya diinventarisir saja, dengan asumsi, ‘oh, dia
berniat nyumbang tenda, keyboard, catering, atau papan bunga, atau
minimal doa’ kali ya? ;-)
Tapi, nah, tidak selamanya juga kita bisa bijak and
in the good mood menghadapinya. Jika memang kita sudah tidak bisa mentolerir komentarnya lagi (
sakiiiiit hati Kakak, Dek) tak ada salahnya juga
becakap
supaya dia tahu. Supaya dia tahu betapa dia telah menghakimi orang
dengan tidak adil. Meminjam istilah sahabat saya, “Mengolok-olok
ketentuan Allah”. Jika mereka masih merasa ada yang salah dengan takdir
(kita), katakan saja itu sudah ranah Allah, kepunyaan Allah. Kalau mau
protes, silahkan berurusan dengan yang punya takdir, yaitu Dia, Sang
Maha Adil. Sederhana.
“Begitu mulianya menjaga diri dari
berucap sia-sia. Gue selalu mengembalikan kepada diri sendiri untuk
selalu menjaga sikap dan tutur kata, juga berpikir supaya hubungan
sesama manusia baik, dan insyallah kebaikan itu akan kembali pada diri
kita sendiri.” SMS sahabat saya lagi.
Yah, sembari juga
kita mengintrospeksi diri siapa tahu selama ini justru kita yang
termasuk orang yang suka cerewet dengan takdir orang lain. Karena di
mana pun posisi kita, takdir kita, sebenarnya sudah diajarkan Nya
bagaimana menyikapinya.
Setiap bencana yang menimpa di
bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam
kitab (Lauh mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian
itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang
luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong dan membanggakan diri (QS Al Hadid 22-23)
Dan
semoga kita bukan termasuk orang yang suka berkomentar tanpa memberi
solusi, dan tak perlu mengucapkan basa basi yang sudah basi. Aamiin.
24.06.12
*Sista, terima kasih untuk SMS-nya yang menginspirasi ;-)
Sumber dari catatan: http://www.facebook.com/notes/gita-kencana-dalimunte/basa-basi-yang-sudah-basi-berkomentarlah-pada-tempatnya-/10151776112468306.