07 September 2012

KEPADA KEDUA ORANG TUAKU



Sudah empat tahun ini anakmu tidak pulang, terutama ketika lebaran adalah moment terpenting untuk bisa sungkem dan memohon maaf secara tatap muka. Kadang dalam hati kecilku bilang, apakah aku ini termasuk anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tua? 

Disini aku sedang bekerja untuk mencari nafkah bagi istri dan anak. Mungkin tidak banyak menabung dan belum cukup untuk bisa nengok kedua orang tuaku. Dilain sisi, aku sangat sulit untuk bisa mengambil cuti langsung seminggu dari tempat kerja. Setiap lebaran, aku hanya bisa bersilaturomi via telephone dan tidak bisa bertatap muka secara langsung. 

Namun demikian, banyak hal yang bisa aku syukuri. Salah satunya adalah kedua orang tuaku dalam keadaan sehat wal’afiat. Serta masih bisa bekerja untuk mencari kebahagiaan serta ‘ngemong’ cucu-cucunya.  Dalam tulisan ini, aku harap bisa menjadi bagian dari apa yang aku rasa dan mendoa’akan agar Allah menyayangi kedua orang tuaku seperti mereka menyanyangiku ketika aku kecil.  Ketika aku  kecil orang tuaku tidak pernah menyerah mengajariku untuk berdiri, berjalan, berbicara serta berjuang untuk anaknya. Ibu, sangat jelas didepan mata bagaimana engkau mengajari aku untuk bangun pagi-pagi hari, bekerja keras di sawah, pantang menyerah, orang yang ulet,  rela bekerja hingga keluar desa, bahkan mencari kayu bakar di hutan untuk bisa menyisipkan uang untuk bisa membayar ssp. Engkau juga mengajariku bagaimana aku berbicara sopan, persuasife, tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan  masalah.  

Bapak dan Ibu, maafkan putramu ini. Saat ini belum bisa pulang kampung dan dengan ini putramu, menantu, cucu serta keluarga dari Palembang memohon maaf atas segala salah, khilaf, kelalaian dan kepada Allah kami memohon ampun.


                                                                                                                                                          

02 September 2012

garuda

Lambang Negara menjadi tutup tempat sampah.

Foto diambil tanggal 29 Agustus 2012 jam 18.15.
Lokasi: Simpang semambung, Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung

26 Agustus 2012

MENULIS

By: Dhe Miran

Sudah beberapa bulan ini aku tidak up date blog aku. Rasanya kangen dan pengen nulis seperti bulan-bulan lalu yang setiap bulan bisa up date 2-4 tulisan. Sekarang, dengan kesibukan saat ini rasa malas mengalahkan kebiasaan yang satu ini, padahal media penulis adalah salah satu media penyalur dari salah satu hobbi aku.

Sepertinya perlu waktu tenang agar bisa memulai lagi apa yang akan aku tulis. Selain itu aku juga sedikit terlupa dengan kebiasaan membaca. Ketika masih bujang, setiap habis gajian di awal bulan aku sempatkan untuk pergi ke toko buku dan membelinya 1-2 buku dan membacanya hingga awal bulan depan. Sangat ironi kebiasaan baik ini sedikit tergerus dan sekarang lebih senang membaca di depan monitor.

Sepertinya perlu waktu beberapa hari untuk memulai kebiasaan menulis dan membaca ini  serta sedikit memaksa meluangkan waktu untuk melakukannya. Mudah-mudahan bisa segera aku mulai.

Ok, sementara itu dulu yang bisa ak tulis. Nanti kalau sudah dapat topik serta semangat menulis pasti aku akan menuangkan dalam bentuk tulisan yang tentunya lebih rapi dan detail.

21 Juli 2012

RENUNGAN RAMADHA


BULAN PUASA
Rasa syukur aku panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepadaku. Sudah diberikan kesempatan untuk mengikuti puasa pada bulan Ramadhan kali ini. Bila tahun lalu berpuasa masih sering ketemu dengan keluarga, untuk kesempatan Ramadhan kali ini aku hanya diberikan kesempatan untuk bertemu keluarga pada pertengan puasa.
Seperti anak kost yang lain, disini berbuka dan sahur dengan ala kadarnya dan semuanya serba masakan orang. Kadang asin, kadan hampar kadang terlalu pedas. Sebagai anak kost pasti sudah terbiasa dengan hal tersebut, sangat kontrast ketika dengan keluarga bisa masak sesuai dengan selera dan ketika makan bisa bersama-sama.
Rasa dahaga akan hilang ketika Magrib tiba, dan lebih nikmat ketika berbuka dengan keluarga. Itu sebagian dari indahnya Bulan Ramadhan dimana rasa kekeluargaan sangat terasa. Meski kali ini tidak dengan keluarga, aku harap bisa menjalaninya secara khusuk dan tidak ada yang bolong. Amin.
KEMATIAN
Membaca ini sebagian orang merasa takut dan merasa belum siap padahal kematian adalah hal setiap hari disamping kita, bahkan ada yang bilang bahwa kematian seperti urat nadi. Kematian bisa datang kapan saja tanpa ada ‘permisi’ kepada empunya. Tidak salah bila kita selalu diminta mengingat dengan kematian agar kita selalu rendah hati.
Ada ceria seorang teman melihat kamar tidur aku yang menggunakan sprei dari kain batik. Sepanjang kasur tersebut aku gunakan kain batik agar merasa nyaman dan selalu inget terhadap orang tua. Teman aku bilang, kenapa kamu menggunakan kain batik ini untuk sprei? Kan seperti orang mati beralas kain batik? Aku bilang ini agar aku merasa lebih nyaman dan selalu inget keluarga.  Aneh yach kalau aku tidur diatas kasur bersprei kain batik, tanyaku? Kan kematian itu deket dan yang namanya hidup sudah pasti akan mati hanya waktu saja yang belum tau. Teman aku hanya diam dan berkata, iya kak tapi aku keinget terus aja sama kematian kalau kakak tidur diatas kain batik getu. Aku bilang, kan kematian sudah pasti datang jadi ngga usah takut jadi berbuat baik sebanyak mungkin aja. Temanku hanya tersenyu saja.
Sudah hukum alam dan sudah pasti datang jadi lebih baik kita mempersiapkan bekal dari diri kita, dari hal-hal kecil dan dari sekarang.
Salam